Install this theme

“The grass is greener in Jannah”
— Imam Suhaib Webb

“The grass is greener in Jannah”

— Imam Suhaib Webb

sejuta ‘Like’ di Facebook tidak akan menghalalkan ‘In A Relationship’ kalian melainkan setelah direstu Tuhan dan kedua ibu bapa melalui pernikahan :)
thejourneyofdakwah:

Jom beramai-ramai memeriahkan KOMPAS!

thejourneyofdakwah:

Jom beramai-ramai memeriahkan KOMPAS!

Sometimes silence is more melodious than spoken words. Silence is the language spoken between your heart and soul, between God and I.
(via ammarmali)
roadtojannah-1:

from every wound there is a scar, and every scar tells a story a story that says i survived … verily Allah is with us SubhanAllah

roadtojannah-1:

from every wound there is a scar, and every scar tells a story a story that says i survived … verily Allah is with us SubhanAllah

hadirkan hatimu..
nourelhousna:

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenali dengan Buya Hamka pernah membuat satu analogi yang begitu menarik dalam menghuraikan keindahan khusyuk. Hayatilah kata-kata Buya Hamka ini :
“Orang yang tidak khusyuk itu samalah seperti orang yang mengunci jendela pada setiap malam agar tidak dimasuki pencuri. Pada saat tangannya menolak engsel, matanya memastikan ia benar-benar berhasil mengunci jendelanya bahkan telinganya sempat pula mendengar bunyi engsel menyelak pintu. Namun kerana kegagalannya untuk khusyuk, sebaik tiba di pembaringan, lantas ia bangun kembali sambil bertanya pada hati sendiri : ‘Adakah aku telah mengunci jendela? Lalu, apa gunanya mata yang melihat, tangan yang bergerak dan telinga yang mendengar sewaktu jendelanya dikunci?’
Subhanallah!

hadirkan hatimu..

nourelhousna:

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenali dengan Buya Hamka pernah membuat satu analogi yang begitu menarik dalam menghuraikan keindahan khusyuk. Hayatilah kata-kata Buya Hamka ini :

“Orang yang tidak khusyuk itu samalah seperti orang yang mengunci jendela pada setiap malam agar tidak dimasuki pencuri. Pada saat tangannya menolak engsel, matanya memastikan ia benar-benar berhasil mengunci jendelanya bahkan telinganya sempat pula mendengar bunyi engsel menyelak pintu. Namun kerana kegagalannya untuk khusyuk, sebaik tiba di pembaringan, lantas ia bangun kembali sambil bertanya pada hati sendiri : ‘Adakah aku telah mengunci jendela? Lalu, apa gunanya mata yang melihat, tangan yang bergerak dan telinga yang mendengar sewaktu jendelanya dikunci?’

Subhanallah!